Peristiwa Wafatnya Rasulullah

Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air
dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan
tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka. Begitu
tingginya suhu panas demam itu, kadang ia sampai tak
sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang
sudah sangat payah sekali. Karena perasaan sedih yang
menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai
penderitaan ayahnya itu:

"Alangkah beratnya penderitaan ayah!"

"Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari
ini," jawabnya.

Maksudnya ia akan meninggalkan dunia ini, dunia duka dan
penderitaan.

Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan
penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada
nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan
mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal
ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam
keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak
orang, ia berkata:

"Bawakan dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat
buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah
sesat."

Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit
Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada
Qur'an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang
menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan
yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan:
Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada
pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.

Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata:

"Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di
hadapan Nabi."

Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang
waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak
dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan
pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman:

"Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." (Qur'an,
6:38)

Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar
dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak
buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila
Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi
sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya
Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya
kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat
hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang
kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam minuman, yang
pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di
Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena
demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman
itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya:

"Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"

"Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput
dada," kata 'Abbas pamannya.

"Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu
kepadaku."

Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah - supaya
meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang
berpuasa.

Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai
terasa berat. Kuatir bila ia meninggal harta masih di
tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan.
Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus selama
sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa
melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum
hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia bertanya
kepada mereka: Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Kemudian
dimintanya supaya dibawakan. Bilamana uang itu sudah
diletakkan di tangan Nabi, ia berkata:

"Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia
menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya."

Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada
fakir-miskin di kalangan Muslimin.

Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya
sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang
diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan
dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat
pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan
berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan
Fadzl bin'l-'Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami
orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang
melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira
yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam
sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka
meneruskan salatnya. Bukan main Muhammad merasa gembira
melihat semua itu.

Abu Bakr merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan
yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau
tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya
untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad
mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang
bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu
Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya

Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, dan
kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar
sampai ke luar mesjid:

"Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun
datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah
kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi
Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang
dihalalkan oleh Qur'an, juga aku tidak akan mengharamkan
sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur'an. Laknat Tuhan
kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai
mesjid."

Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju,
bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama b.
Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa
pasukan ke Syam, dan Abu Bakrpun datang pula menghadap
dengan mengatakan:

"Rasulullah!6 Saya lihat tuan sekarang dengan karunia dan
nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian
Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?"

Nabi pun mengijinkan. Abu Bakr segera berangkat pergi ke
Sunh di luar kota Medinah - tempat tinggal isterinya. Umar
dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum
Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua
dalam suasana suka-cita dan gembira sekali, - sebab sebelum
itu mereka semua dalam kesedihan, berwajah suram setelah
mendapat berita bahwa Nabi dalam keadaan sakit, demamnya
semakin keras sampai ia pingsan.

Sekarang ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Senang sekali
hatinya melihat kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan
hati bersemarak, meskipun ia masih merasakan badannya sangat
lemah sekali.

Dipandangnya laki-laki itu oleh Aisyah, dengan kalbu yang
penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang penuh
rasa iba hati karena ia lemah, ia sakit. Ia ingin sekiranya
ia dapat mencurahkan segala yang ada dalam dirinya untuk
mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.

Akan tetapi, kiranya perginya Nabi ke mesjid itu adalah
suatu kesadaran batin, yang akan disusul oleh kematian.
Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah
lemah juga. Ia melihat maut sudah makin mendekat. Tidak
sangsi ia bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja
lagi. Ya, kiranya apakah yang diperhatikannya pada
detik-detik yang masih ada sebelum ia berpisah dengan dunia
ini? Adakah ia mengenangkan hidupnya sejak diutus Tuhan
sebagai pembimbing dan sebagai nabi, mengenangkan segala
yang pernah dialaminya selama itu, kenikmatan yang diberikan
Tuhan kepadanya sampai selesai, kemudian hati merasa lega
karena kalbu orang-orang Arab itu sudah terbuka menerima
agama yang hak? Ataukah selama itu ia tinggal hanya membaca
istighfar - meminta pengampunan Tuhan dan dengan seluruh
jiwa ia menghadapkan diri seperti yang biasanya dilakukan
selama dalam hidupnya? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir
itu ia harus menahan penderitaan sakratulmaut sehingga tidak
lagi punya tenaga akan mengingat?

Dalam hal ini beberapa sumber masih sangat berlain-lainan
sekali keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada
hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8
Juni 632 - ia minta disediakan sebuah bejana berisi air
dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia
mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki
dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan
sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian
rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah
benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah
dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi.
Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri
kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah
aku dalam sakratulmaut ini."

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di
pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat
di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata
pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai
Tertinggi7 dari surga."

"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah
memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka
Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada8 dan
leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang
lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan usiaku yang masih
muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku.
Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri
dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul
mukaku."

Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi
perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul
fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan
menjurus kepada perang saudara, kalau tidak karena Tuhan
Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan agama yang
sebenarnya ini.

Catatan kaki:

1 yaitu Mu'adh b. Jabal (A)
2 Siwak, batang kayu kecil dengan dilunakkan ujungnya
dipakai menggosok dan membersihkan gigi (A)
3 Bandingkan: Al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari (jilid 2 p. 117)
dalam menafsirkan Surah Hud ayat 112 (11 : 112) dan Mufradat
Raghib, sub verbo "dzall" (A).
4 Ahida ila, berarti 'berwasiat' (N), atau 'berpesan' (A).
5 Tayawaza 'an yakni 'afa 'an (N), 'memaafkan' (A).
6 Aslinya "Ya Nabiullah' (A)
7 Ar-Rafiq'-A'la pada umumnya ahli-ahli filologi mengartikan
kata rafiq ini, dengan 'handai taulan;' 'yang lemah-lembut;'
'teman seperjalanan;' 'kawan hidup, suami atau isteri' (LA).
Dalam istilah Hadis: rafiq berarti 'para nabi yang menempati
tempat tertinggi,' untuk jamak dan tunggal (N); kata rafiq
dalam Qur'an (4: 691 berarti 'teman seperjalanan' (N) dan
rafiq dalam doa di atas ada yang mengartikan 'Tuhan' yakni
'Yang lemah-lembut kepada hambaNya' (N). Berarti 'teman'
dalam surga, (Qur'an, 4:69) demõkian sebagian besar
ahli-ahli tafsir Qur'an. Dalam terjemahan ini dengan
kira-kira dipergunakan kata 'Handai Tertinggi' (A).
8 Sahr 'berarti paru-paru, yakni ia meninggal sedang
bersandar di dadanya yang menjurus ke paru-paru' {N) (A).
9 Safah, harfiah: kebodohan (A).

0 komentar:

Posting Komentar