Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air
dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan
tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka. Begitu
tingginya suhu panas demam itu, kadang ia sampai tak
sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang
sudah sangat payah sekali. Karena perasaan sedih yang
menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai
penderitaan ayahnya itu:
"Alangkah beratnya penderitaan ayah!"
"Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari
ini," jawabnya.
Maksudnya ia akan meninggalkan dunia ini, dunia duka dan
penderitaan.
Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan
penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada
nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan
mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal
ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam
keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak
orang, ia berkata:
"Bawakan dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat
buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah
sesat."
Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit
Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada kita sudah ada
Qur'an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang
menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan
yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan:
Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada
pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.
Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata:
"Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di
hadapan Nabi."
Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang
waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak
dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan
pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman:
"Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." (Qur'an,
6:38)
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar
dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usama dan anak
buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila
Usama kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi
sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya
Usama, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya
kepada Usama sebagai tanda mendoakan.
Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat
hendak membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang
kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam minuman, yang
pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di
Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena
demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman
itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya:
"Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"
"Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput
dada," kata 'Abbas pamannya.
"Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu
kepadaku."
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah - supaya
meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang
berpuasa.
Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai
terasa berat. Kuatir bila ia meninggal harta masih di
tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan.
Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus selama
sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa
melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum
hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia bertanya
kepada mereka: Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Kemudian
dimintanya supaya dibawakan. Bilamana uang itu sudah
diletakkan di tangan Nabi, ia berkata:
"Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia
menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya."
Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada
fakir-miskin di kalangan Muslimin.
Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya
sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang
diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan
dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat
pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan
berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan
Fadzl bin'l-'Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami
orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang
melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira
yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam
sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka
meneruskan salatnya. Bukan main Muhammad merasa gembira
melihat semua itu.
Abu Bakr merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan
yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau
tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya
untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad
mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang
bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu
Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya
Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, dan
kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar
sampai ke luar mesjid:
"Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun
datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah
kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi
Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang
dihalalkan oleh Qur'an, juga aku tidak akan mengharamkan
sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur'an. Laknat Tuhan
kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai
mesjid."
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju,
bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama b.
Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa
pasukan ke Syam, dan Abu Bakrpun datang pula menghadap
dengan mengatakan:
"Rasulullah!6 Saya lihat tuan sekarang dengan karunia dan
nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian
Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?"
Nabi pun mengijinkan. Abu Bakr segera berangkat pergi ke
Sunh di luar kota Medinah - tempat tinggal isterinya. Umar
dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum
Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua
dalam suasana suka-cita dan gembira sekali, - sebab sebelum
itu mereka semua dalam kesedihan, berwajah suram setelah
mendapat berita bahwa Nabi dalam keadaan sakit, demamnya
semakin keras sampai ia pingsan.
Sekarang ia kembali pulang ke rumah Aisyah. Senang sekali
hatinya melihat kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan
hati bersemarak, meskipun ia masih merasakan badannya sangat
lemah sekali.
Dipandangnya laki-laki itu oleh Aisyah, dengan kalbu yang
penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang penuh
rasa iba hati karena ia lemah, ia sakit. Ia ingin sekiranya
ia dapat mencurahkan segala yang ada dalam dirinya untuk
mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.
Akan tetapi, kiranya perginya Nabi ke mesjid itu adalah
suatu kesadaran batin, yang akan disusul oleh kematian.
Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah
lemah juga. Ia melihat maut sudah makin mendekat. Tidak
sangsi ia bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja
lagi. Ya, kiranya apakah yang diperhatikannya pada
detik-detik yang masih ada sebelum ia berpisah dengan dunia
ini? Adakah ia mengenangkan hidupnya sejak diutus Tuhan
sebagai pembimbing dan sebagai nabi, mengenangkan segala
yang pernah dialaminya selama itu, kenikmatan yang diberikan
Tuhan kepadanya sampai selesai, kemudian hati merasa lega
karena kalbu orang-orang Arab itu sudah terbuka menerima
agama yang hak? Ataukah selama itu ia tinggal hanya membaca
istighfar - meminta pengampunan Tuhan dan dengan seluruh
jiwa ia menghadapkan diri seperti yang biasanya dilakukan
selama dalam hidupnya? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir
itu ia harus menahan penderitaan sakratulmaut sehingga tidak
lagi punya tenaga akan mengingat?
Dalam hal ini beberapa sumber masih sangat berlain-lainan
sekali keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada
hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8
Juni 632 - ia minta disediakan sebuah bejana berisi air
dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia
mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki
dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah dengan
sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian
rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah
benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah
dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi.
Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri
kepada Allah sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah
aku dalam sakratulmaut ini."
Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi berada di
pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat
di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata
pandangannya menatap ke atas seraya berkata, "Ya Handai
Tertinggi7 dari surga."
"Kataku, 'Engkau telah dipilih maka engkau pun telah
memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.' Maka
Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada8 dan
leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang
lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan usiaku yang masih
muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku.
Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri
dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul
mukaku."
Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi
perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul
fitnah di kalangan mereka dengan segala akibat yang akan
menjurus kepada perang saudara, kalau tidak karena Tuhan
Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan agama yang
sebenarnya ini.
Catatan kaki:
1 yaitu Mu'adh b. Jabal (A)
2 Siwak, batang kayu kecil dengan dilunakkan ujungnya
dipakai menggosok dan membersihkan gigi (A)
3 Bandingkan: Al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari (jilid 2 p. 117)
dalam menafsirkan Surah Hud ayat 112 (11 : 112) dan Mufradat
Raghib, sub verbo "dzall" (A).
4 Ahida ila, berarti 'berwasiat' (N), atau 'berpesan' (A).
5 Tayawaza 'an yakni 'afa 'an (N), 'memaafkan' (A).
6 Aslinya "Ya Nabiullah' (A)
7 Ar-Rafiq'-A'la pada umumnya ahli-ahli filologi mengartikan
kata rafiq ini, dengan 'handai taulan;' 'yang lemah-lembut;'
'teman seperjalanan;' 'kawan hidup, suami atau isteri' (LA).
Dalam istilah Hadis: rafiq berarti 'para nabi yang menempati
tempat tertinggi,' untuk jamak dan tunggal (N); kata rafiq
dalam Qur'an (4: 691 berarti 'teman seperjalanan' (N) dan
rafiq dalam doa di atas ada yang mengartikan 'Tuhan' yakni
'Yang lemah-lembut kepada hambaNya' (N). Berarti 'teman'
dalam surga, (Qur'an, 4:69) demõkian sebagian besar
ahli-ahli tafsir Qur'an. Dalam terjemahan ini dengan
kira-kira dipergunakan kata 'Handai Tertinggi' (A).
8 Sahr 'berarti paru-paru, yakni ia meninggal sedang
bersandar di dadanya yang menjurus ke paru-paru' {N) (A).
9 Safah, harfiah: kebodohan (A).
Selamat Datang
Peristiwa Wafatnya Rasulullah
masukilah duniaku | 00.42 | | 0 komentar
Perang Rusia-Jepang
masukilah duniaku | 00.38 | | 0 komentar
Perang Rusia-Jepang (10 Februari 1904 – 5 September 1905) adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.
* 1 Asal-mula perang
* 2 Peperangan
o 2.1 Perang tahun 1904
o 2.2 Perang tahun 1905
* 3 Daftar pertempuran
* 4 Arti penting
* 5 Referensi
* 6 Lihat pula
* 7 Pranala luar
[sunting] Asal-mula perang
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, berbagai negara Barat bersaingan memperebutkan pengaruh, perdagangan dan wilayah di Asia Timur sementara Jepang berjuang untuk menjadi sebuah negara modern yang besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Choson Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Upaya Jepang untuk menduduki Korea menyebabkan pecahnya Perang Tiongkok-Jepang.
Manchuria Raya, Manchuria Rusia (di bagian luar) adalah wilayah di kanan atas dengan warna merah muda; Jazirah Liaodong adalah bagian yang menjorok ke Laut Kuning
Kekalahan yang dialami Jepang dalam perang itu menyebabkan ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan Lüshunkou (sering disebut Port Arthur). Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia, Kekaisaran Jerman dan Republik Ketiga Prancis ) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok. Sementara itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea.
Setelah gagal mendapatkan perjanjian yang menguntungkannya dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan mulai menyerang dua hari kemudian. Kedua pihak mengeluarkan pernyataan perang pada 10 Februari. Di bawah hukum internasional, serangan Jepang tidak dapat dianggap sebagai serangan tersembunyi, karena ultimatum telah dikeluarkan. Namun demikian, setelah serangan Pearl Harbor, seringkali dikatakan bahwa ini adalah salah satu contoh betapa Jepang suka melakukan serangan mendadak.
[sunting] Peperangan
[sunting] Perang tahun 1904
Port Arthur, di Jazirah Liaodong di selatan Manchuria, telah diperkuat Rusia hingga menjadi sebuah pangkalan Angkatan Laut besar. Jepang membutuhkan kekuasaan laut untuk berperang di daratan Asia, karena itu tujuan militer pertama mereka adalah menetralkan armada Rusia di Port Arthur. Pada 8 Februari malam, armada Jepang di bawah pimpinan Admiral Heihachiro Togo memulai peperangan dengan sebuah serangan torpedo mendadak pada kapal-kapal Rusia di Port Arthur, sehingga membuat dua kapal perang Rusia rusak parah. Serangan-serangan itu berkembang menjadi Pertempuran Port Arthur esok paginya. Serangkaian pertempuran laut yang tidak memberikan hasil yang menentukan pun terjadi. Pada kesempatan itu, Jepang tidak berhasil menyerang Rusia dengan menggunakan meriam-meriam darat dari pelabuhan, dan armada Rusia menolak untuk meninggalkan pelabuhan itu dan pergi ke laut terbuka, khususnya setelah kematian Admiral Stepan Osipovich Makarov pada 13 April. Pertempuran-pertempuran ini memberikan perlindungan bagi sebuah pasukan Jepang untuk mendarat dekat Incheon di Korea, dan dari sana mereka menduduki Seoul dan berikutnya seluruh Korea. Pada akhir April, tentara Jepang di bawah Kuroki Itei bersiap-siap menyeberangi sungai Yalu ke Manchuria yang saat itu diduduki Rusia.
Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei, pecahlah Pertempuran Sungai Yalu. Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran ini, termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan.
Di laut, perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan pada 8 Februari terhadap Port Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah pasukan Rusia menggunakan pelabuhan itu.
Daftar pertempuran
* 1904 Pertempuran Port Arthur, 8 Februari: [pertempuran laut] Tanpa keputusan
* 1904 Pertempuran Teluk Chemulpo, 9 Februari: [ertempuran laut] Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Sungai Yalu, 30 April sampai 1 Mei: Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Dairen, 30 Mei: Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Laut Kuning, 10 Agustus: [pertempuran laut] Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Laut Jepang, 14 Agustus: [pertempuran laut] Jepang mengalahkan Rusia
* 1904-1905 Pengepungan Port Arthur, 19 Agustus sampai 2 Januari: Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Liaoyang, 25 Agustus sampai 3 September: Jepang mengalahkan Rusia
* 1904 Pertempuran Sungai Sha-ho, 5 Oktober sampai 17 Oktober: Tanpa keputusan
* 1905 Pertempuran Sandepu, 26 Januari sampai 27 Januari: Tanpa keputusan
* 1905 Pertempuran Mukden, 21 Februari sampai 10 Maret: Jepang mengalahkan Rusia
* 1905 Pertempuran Tsushima, 27 Mei sampai 28 Mei [pertempuran laut]: Jepang mengalahkan Rusia
Arti penting
Perang ini menandai bangkitnya kekuatan Aisa menandingi kekuatan Barat yang berkuasa di Tiongkok saat itu. Kemenangan ini membuat kekuatan Barat harus memperhitungkan Jepang dalam urusan politik di Asia. Selain itu, kemenangan ini memicu kebangkitan nasional di negara-negara Asia lainnya yang sedang terjajah oleh negara Eropa.
Detik-Detik Proklamasi
masukilah duniaku | 00.35 | | 0 komentar
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.
Daftar isi
[tampilkan]
* 1 Latar belakang
* 2 Peristiwa Rengasdengklok
o 2.1 Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda
* 3 Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi
* 4 Isi Teks Proklamasi
o 4.1 Naskah Otentik
* 5 Peringatan 17 Agustus 1945
o 5.1 Lomba-lomba tradisional
o 5.2 Peringatan Detik-detik Proklamasi
* 6 Rujukan
* 7 Lihat pula
* 8 Pranala luar
[sunting] Latar belakang
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia .png
Sejarah Nusantara
Pra-Kolonial (sebelum 1509)
Pra-sejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Islam
Zaman kolonial (1509-1945)
Era Portugis (1509-1602)
Era VOC (1602-1800)
Era Belanda (1800-1942)
Era Jepang (1942-1945)
Sejarah Republik Indonesia
Proklamasi (17 Agustus 1945)
Masa Transisi (1945-1949)
Era Orde Lama (1950-1959)
Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Operasi Trikora (1960-1962)
Konfrontasi Indo-Malaya (1962-1965)
Gerakan 30 September 1965
Era Orde Baru (1966-1998)
Gerakan Mahasiswa 1998
Era Reformasi (1998-sekarang)
Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Indonesian flag raised 17 August 1945.jpg
Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.[1] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.
Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).
Indonesia flag raising witnesses 17 August 1945.jpg
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
[sunting] Peristiwa Rengasdengklok
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: peristiwa Rengasdengklok
Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
[sunting] Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Mayor Nishimura dan Laksamana Muda Maeda
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Maeda Tadashi dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[2] Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[3] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
[sunting] Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi
Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[5]
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
[sunting] Isi Teks Proklamasi
Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta
Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.
[sunting] Naskah Otentik
Tentang suara ini Suara Bung Karno membacakan naskah proklamasi di studio RRI tahun 1951, pembacaan atas usul salah satu pendiri RRI Jusuf Ronodipuro (bantuan·info)
Putar suara
Kesulitan memainkan berkas media?
Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-45
Wakil2 bangsa Indonesia.
[sunting] Peringatan 17 Agustus 1945
Setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan ini dengan meriah. Mulai dari lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, sampai upacara militer di Istana Merdeka, seluruh bagian dari masyarakat ikut berpartisipasi dengan cara masing-masing.
[sunting] Lomba-lomba tradisional
Perlombaan yang seringkali menghiasi dan meramaikan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI diadakan di kampung-kampung/ pedesaan diikuti oleh warga setempat dan dikoordinir oleh pengurus kampung/ pemuda desa
* Panjat pinang
* Balap bakiak
* Tarik tambang
* Sepeda lambat
* Makan kerupuk
* Balap karung
* Perang bantal
* Pemecahan balon
* Pengambilan koin dalam terigu
* Lari Kelereng
[sunting] Peringatan Detik-detik Proklamasi
Peringatan detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka dipimpin oleh Presiden RI selaku Inspektur Upacara. Peringatan ini biasanya disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi. Acara-acara pada pagi hari termasuk: penembakan meriam dan sirene, pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih (Bendera Pusaka), pembacaan naskah Proklamasi, dll. Pada sore hari terdapat acara penurunan bendera Sang Saka Merah Putih.
Asal-Usul Perang Dunia 1
masukilah duniaku | 00.32 | | 0 komentar
Perang Dunia I (disingkat PDI atau PD1; juga dinamakan Perang Dunia Pertama, Perang Besar, Perang Negara-Negara, dan Perang untuk Mengakhiri Semua Perang) adalah sebuah konflik dunia yang berlangsung dari 1914 hingga 1918. [2] Lebih dari 40 juta orang tewas, termasuk sekitar 20 juta kematian militer dan sipil.[3][4][5]
Perang ini dimulai setelah Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria (sekarang Austria) dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip di Sarajevo. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya. Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad ini berlangsung saat perang ini. Empat dinasti, Habsburg, Romanov, Ottoman dan Hohenzollern, yang mempunyai akar kekuasaan hingga zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang.
Perang Dunia I menjadi saat pecahnya orde dunia lama, menandai berakhirnya monarki absolutisme di Eropa. Ia juga menjadi pemicu Revolusi Rusia, yang akan menginspirasi revolusi lainnya di negara lainnya seperti Tiongkok dan Kuba, dan akan menjadi basis bagi Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Kekalahan Jerman dalam perang ini dan kegagalan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung yang telah menjadi sebab terjadinya Perang Dunia I akan menjadi dasar kebangkitan Nazi, dan dengan itu pecahnya Perang Dunia II pada 1939. Ia juga menjadi dasar bagi peperangan bentuk baru yang sangat bergantung kepada teknologi, dan akan melibatkan non-militer dalam perang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perang Dunia menjadi terkenal dengan peperangan parit perlindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena pertahanan yang ketat. Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran.
Revolusi Amerika
masukilah duniaku | 00.23 | | 0 komentar
Pada abad ke-17, masyarakat Inggris banyak berimigrasi ke daerah Amerika Utara, disbabkan faktor-faktor berikut :
Faktor Agama, bayak kaum kristen Puritan yang mendapat gangguan kaum kristen Anglikan yang notabene adalah agama kerajaan.
Faktor Politik, masyarakat ingin terbebas dari kekuasaan raja yang bersifat absolut
Faktor Ekonomi, masyarakat ingin mebangun kehidupan yang lebih sejahtera
Masyarakat imigran lalu mendirikan koloni. Koloni adalah daerah yang ditempati para imigran setelah mengusir penduduk asli. Koloni pertama di Amerika adalah Virginia yang didirikan kongsi dagang Virginia Company pada tahun 1607. Sampai tahun 1700, telah berdiri 13 koloni di sepanjang Pantai Timur Amerika Utara a.l, New Hampshire, Massachussets, Rhode Island, New York, Connecticut, New Jersey, Pennysylvania, Delaware, Maryland, North Carolina, South Carolina dan Georgia.
Tahun 1756-1763, terjadi Perang antara Inggris melawan Prancis yang dimenangkan Inggris. Penyebabnya, Inggris telah melanggar tapal batas sampai ke wilayah Mississipi. Akhirnya, Inggris berhak menguasai wilayah Amerika Utara.
Pemerintah Inggris akhirnya membuat peraturan yang sebetulnya merugika kaum kolonis, diantaranya :
Inggris mengangkat gubernur untuk setiap daerah koloni
Penduduk dikenakan berbagai pajak
Tahun 1765, pihak kolonis mengeluarkan pernyataan “no taxation without representation” yang artinya Inggris tak akan membayar bila tak ada perwakilan di Parlemen Inggris. Pernyataan ini diterima pihak Inggris dan kebijakan pajak dihapuskan setahun setelah dikeluarkannya protes itu.
Pada tahun 1767, Perdana Menteri baru Inggris, Towshend, menghidupkan kembali UU perpajakan bagi kaum kolonis. Pihak kolonis jelas tak terima. Hal ini yang membuat Inggris marah dan lahirlah drama pembantaian masyarakat Boston yang dikenal dengan nama The Boston Massacre pada 5 Maret 1770.
Samuel Adams sebagai pelopor kemerdekaan Amerika membakar semangat kaum kolonis untuk lepas dari Inggris. Pada 5 September 1774, diselenggarakan kongres Kontinental I di Philadelphia yang intinya koloni ingin melepaskan diri dari penjajahan Inggris. Raja Inggris, mengutus Jenderal Thomas Gage untuk menangkap Samuel Adams bersama kompatriotnya yang menentang Inggris.
18 April 1775, terjadi perang Lexington dan Concord yang dianggap sebagai awal Revolusi Amerika. Gema perang ini telah menumbuhkan semangat patriotisme dan menumbuhkan rasa persatruan. Mereka telah menganggap bahwa mereka adalaha bangsa Amerika bukan lagi Inggris.
10 Mei 1775, diadakan kongres Kontinental II di Philadhelpia yang berintikan Perlunya mngangkat senjata melawan Inggris dan pengangkatan Kolonel George Washington sebagai panglima perang. Thomas Jefferson, John Adams, Benyamin Franklin, Roger Sherman, dan Robert L. Livingstone (anggota-anggota kongres Kontinental II) menyelesaikan Declaration of Independent pada 4 Juli 1776 dan pada hari itu juga ditetapkan sebagai Hari Nasional Amerika Serikat.
Isi pokok deklarasi ini adalaha pembentukan pemerintahan demokrasi dan perlindungan HAM. Perang Kemerddekaan berlangsung antara tahun 1776 sampai 1783.
Benyamin Franklin yang berjasa sebagai duta keliling, dibentuk meminta bantuan ke Negara-negara Eropa untuk melawan Inggris. Prancis adalah Negara yang mau membantu. Misi mereka adalah balas dendam atas kekalahan dengan Inggris di perang 7 tahun. Bala bantuan Prancis dipimpin oleh The Marquis de Laffayete.
Pada tahun 1777 Article of Confederation yang membahas rencana penggabungan Negara bagian untuk mencapai syarat pemerintahan yang demokratis dan terbentuklah Amerika Serikat.
Tahun 1781 Inggris mengalami kekalahan terbesar di Yorktown. Jenderal Cornwallis sebagai perwakilan Inggris menyatakan menyerah. Berita ini tersebar di London dan menghasilkan perdamaian antara Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis di Paris pada 1783 dan akhirnya Inggris mengakui kemerdekaan Amerika.